Dalam kebingungannya mencari pekerjaan, anakku bilang:” Ibu, aku mau belajar berdagang.” “Berdagang? Berdagang apa nak?”, begitu responku penuh keheranan karena keluarga kami bukan keluarga yang mempunyai darah pedagang. Semua adik-adik bapak, saudara-saudara ibu adalah pegawai negeri: ada yang guru, pegawai kantor , pegawai perusahaan , dokter, atau petani. Jadi menurutku kami termasuk orang yang tidak bisa berdagang karena bukan keturunan pedagang.
Ternyata apa yang dilakukan anakku adalah membeli kerudung. Kemudian kerudung-kerudung itu dijual lagi lewat beberapa teman. Pada awalnya dia membeli kerudung kurang lebih 30 buah. Alhamdulillah habis, bahkan ada pesanan kerudung dengan warna dan model tertentu. Dia kembali melakukan aktifitas seperti awal, ditambah mencari kerudung-kerudung sesuai pesanan. Aku sangat gembira melihat keinginan dia melakukan sesuatu terpenuhi.
Suatu ketika, batas maksimal penawaran kerudung sampai pada masanya. Kurang lebih sepuluh kerudung kembali karena tidak ada yang berminat. Sampai berhari-hari kerudung itu teronggok di atas meja kecil disudut kamarku. Sementara anakku sudah kembali ke-kos nya. Setiap saat aku melihat kerudung-kerudung itu hatiku sedih. Aku sedih bukan karena barang yang tidak laku dan uang yang tidak kembali atau merugi, tetapi aku merasa sedih dengan terhentinya usaha kecil-kecilan anakku. Ada terbersit rasa cemas kalau anakku kecewa,bersedih dan putus asa dengan terhentinya usaha yang baru dia awali ini. Itulah mungkin karena ke tidak-ada an darah dagang dalam diriku. ‘Belum-belum’ ( begitu orang Jawa bilang ) , sudah ketakutan, ‘belum-belum’ sudah mau menyerah. Lagi pula berdagang tidak laku itu adalah bagian dari perjalanan, disitu seninya, begitu kata orang. Tidak ada pedagang yang untung dan laku terus. Ada masa-masa sepi, ada kalanya merugi. Hal itulah yang sama sekali ‘asing ‘ bagiku. Tidak pernah terbayangkan.Maunya, harapannya laku semua, untung setiap saat……
Terdorong segala rasa yang aku utarakan di atas, akhirnya aku bawa dan aku tawarkan kerudung sisa itu ke teman-temanku. Ternyata mendapat sambutan bagus sehingga kerudung-kerudung itu habis. Seperti yang pernah dialami anakku, sekarang aku balik mendapat banyak pesanan. Anak ku senang bukan main. Ketika aku cerita bahwa harga kerudungnya aku murahkan, anakku terkejut bukan main dan dengan sedikit marah dia bilang:” Aduuuh ibu……..gimana ibu ini, bener -bener gak profesional dech ibu.” Aku diam saja merasa bersalah.”Kalau begini caranya bakalan merusak harga ibuu…begitu dia melanjutkan penyesalannya. Aku merasa bersalah dan baru menyadari kalau apa yang aku lakukan akan berdampak merusak harga bagi barang berikutnya. Hal seperti itu sama sekali tidak ada dalam pikiranku. Yang ada hanya ‘kasihan, kasihan dan kasihan’ saja; kok kerudungnya tidak laku. Dari pada teronggok, kan lebih baik ditawarkan dengan harga lebih murah dari harga awal. “Kan sering ada juga banting harga’” begitu pikirku .
Memang, pada mulanya aku berniat tidak ikut aktifitas penjualan. Selain ‘tidak tegaan’ aku juga ‘sungkan’ karena di tempat kerjaku sudah banyak teman-teman yang melakukan hal serupa dengan barang serupa. Maksudku sudah banyak teman-teman yang menawarkan kerudung di tempat kerjaku, jadi aku tidak enak menyaingi mereka. Lagi-lagi pemikiran sempit orang yang tidak berjiwa pedagang: takut bersaing.
Berbekal pengalaman di atas dan keinginan memperbaiki kesalahan, aku mulai lagi kegiatan membantu anakku dengan bersemangat. Sebagai seorang ibu aku menasehati dia :” Jangan terlalu lama menyesali kegagalan, siapa tahu itu merupakan awal keberhasilan besar”.
Ada kata bijak yang bunyinya: Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka tetapi kita seringkali terlalu lama memandang dengan kecewa pintu yang tertutup itu sehingga kita tidak melihat pintu yang terbuka bagi kita.
life is never flat mom ^^
jatuh bangun dalam berdagang itu lah seni dari berdagang itu sendiri
When the God closed the door, God will open the window.
Koq aku jadi ingat lagu dalam film The Sound of Music. Aku lihat film itu pertama kali tahun 1983 lewat video VHS, kemudian di bioskop, kemudian di Indosiar dan aku memburu film itu dapat VCD bajakannya pada tahun 1999. pada hal film itudiliris tahun 1968. ga tahu masih bisa diputar apa wis jamuren he he he. Ku asih cari VCD film Jesus Chris Super Star, aku cuma punya casetenya.
Tanggung jawab seorang ibu. Kadang kita menaruh kasihan pada anak, kita sudah lupa bahwa mereka bukan anak-anak lagi. Tut Wuri Handayani., Kadang kita takut kalau-kalau anak kita kecewa atau karena gagal terus ga bersemangat. Kadang kita perlu membiarkan anak kita dengan kegagalannya biar jadu lebih dewasa, karena dengan kadang-2 kurang berhasil menjadikan “mletik pikire”. Kan kita tidak mungkin menggedongnya terus.
Jarkoni lho Bu.
Nyuwun pwngapunten menawi kawula lepat tuwin kirang suba sita.
Kapan ya bisa omong-omong langsung? Apa karena FB jadi malas kontak langsung?
Be a good mother!
I will try to be a good father, padagal aku lebih senang jadi Godfather.
Mugi Gusti paring karahayon dumateng kita sedaya. Amin
iya Woro. Lha aku maunya yang laku-laku saja, tidak untung gpp asal abizzzz. Nah gak profesional dagang banget kan non. Itulah yg disesali anakku berhari-hari, sampai akhirnya aku keluarkan jurus ‘nasehat’ diatas dilanjutkan dengan ilmu ‘tuwo’ bahwa hidup ini tidak hanya untuk materi. . . . hehehe Thanks banget ya masih setia menemani aku di sini.
welcome pak Tri,seneng sekali jenengan juga hadIr disini. You are one of my best supporters.
Yang namanya ‘darah dagang’ dengan ‘darah wiraswasta’ menurutku agak beda ,pak. Ada orang yang darah dagangnya kental ketika dia menjadi guru, segalanya diukur seperti berdagang, sehingga yang namanya dedikasi gak ada. Sebaliknya darah guru tapi berdagang, ya semuanya diberikan gak mengambil untung.
Jaman dulu aliran darah itu relatif tetap/bertahan atau memang dipertahankan pada masing-masing kelompok.Apakah hal ini karena pengaruh kolonialisme saya sendiri kurang paham. Sekarang diabad merdeka di era globalisasi, aliran itu memang cenderung campur aduk. Orang bebas melakukan apa saja: pendidikan, kesehatan, hukum, dagang, politik di jadikan satupun susah menghalanginya.
Untuk diriku sendiri, masuk ke zone transisi jadilah guru yang mencoba berdagang dengan model dedikasi. Anakku memberi nama “Bisnis ala Ibu”. Apa gak mumet rekanan nya……..
Sepindah malih matur nuwun sanget pak Tri Winardi tumrap sedoyo panjurung, panggandeng lan pambiyantu moril khususipun.
Allah sudah mengatur jalan hidup semuuua hamba-hambanya di muka bumi ini..Jadi apapun pekerjaan yang akan kita jalani, ya kita syukuri aja sebagai pemberian atas nikmat Allah..selagi pekerjaan itu halal dan baik untuk kita,,kenapa tidak…Tak ada yang tidak bisa,jika Allah sudah berkehendak…kunfayakun jadi…maka akan jadilah bagi Allah…
So,tak ada yang mustahil bagi kita untuk kita kerjakan…
Sebagai dosen kewirausahaan, pengalaman dik Pangas akan saya pamerkan ke mahasiswa, bagaimana seseorang memulai usaha dan jatuh bangunnya.
apa ada manfaatnya tho pak???
sudah jalan allah SWT .