RSS

Terganggu?

Kecukupan waktu untuk bisa menerima  orang lain pada saat normal; merupakan nikmat Allah yang tiada tara. Jika kita bisa membuka tangan menerima kehadiran siapa saja kapan saja dengan tulus ;  pertanda bahwa Allah sedang memberikan anugerah kesehatan rohani, kesehatan jiwa kepada kita.

Seseorang yang terbaring sakit, tetapi  senang melihat orang lain hadir disisinya  pertanda jiwanya sehat. Hal ini akan tersirat dari cahaya matanya yang berseri-seri.Kalau dia sakit parah, kegembiraan hati yang juga merupakan kesehatan jiwanya akan menjadi obat tersendiri.

Kebalikkannya, orang sehat tetapi merasa terganggu , bahkan jengkel dengan kehadiran orang lain, pertanda bahwa jiwanya sedang sakit. Wajah masam dan muram terkesan bertolak belakang dengan tubuh sehatnya.

Suatu ketika saya perlu bantuan seseorang ketika mencari alamat rumah. Karena tidak ada orang di luar di dekat tempat saya berada, terpaksa saya ketuk pintu dengan sopan sambil berkata:” Mohon maaf mau bertanya , rumah ibu X ,  sebelah mana ya?”. Si ibu yang keluar dari dalam rumah sambil ter-gopoh2 dan wajah kecut menjawab:” Sebelah”. Setelah mengucapkan terima kasih saya beranjak dan tersadar dari bengong saya yang tidak mengira akan menemukan respon seperti itu.

Orang yang sempit waktu bahkan sama sekali tidak punya waktu menerima orang lain tentu lah mereka yang sedang dalam kondisi tidak normal. Ketidak normalan itu bisa karena : sibuk, capek, sakit, sedih dan sebagainya.

Jadi pantaslah kita bersyukur jika kita, tidak dalam kondisi tidak bisa menerima kehadiran orang lain. Berarti kita dalam kondisi normal, kita tidak sibuk, tidak capek, tidak sakit dan tidak sedang sedih.Mungkin ada baiknya kita senantiasa berusaha belajar dapat menerima orang lain dalam kondisi apapun baik normal maupun tidak normal. Benar enggak ya ………

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 12, 2012 in pengalaman, Uncategorized

 

HIKMAH : DOA DUDUK ANTARA DUA SUJUD

HIKMAH : DOA DUDUK ANTARA DUA SUJUD.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 6, 2012 in lesson

 

Keping-keping doa ku

Ya Allah , peliharalah diriku dari kebiasaan tidak suka pada hal2 jelek, menurut pandanganku, karena ini membuatku angkuh dan merasa selalu benar.

Berilah hamba kelembutan hati  ya Allah, supaya hamba dapat lebih dekat dengan MU ya RABB. Hamba ingin lebih sujud kepada MU ya Allah, hamba ingin selalu sehat lahir maupun batin agar dapat lebih sujud dengan MU , ya Allah.

Ampunilah ya Allah dosa dan kesalahan hamba selama ini , termasuk dosa dan kesalahan karena sering tidak suka pada hal-hal jelek yang dilakukan orang lain, karena hal itu berarti hamba telah menghakimi orang lain, yang seharusnya itu adalah kekuasaan MU ya Allah……………………

Ya Allah jauhkanlah hamba dari kejengkelan yang sering datang dalam hati kami, dekatkanlah hamba dengan kesabaran MU setiap saat ya Rabb…

Ya Allah hamba ingin lebih sujud dan dekat kepada MU, lewat kuwajiban hamba mengasuh dan menemani anak hamba. Berikanlah hamba, anak serta menantu dan cucu-cucu hamba selalu kekuatan dan kesehatan lahir batin di jalan MU……………

Ya Allah, kebiasaan menyelesaikan segala sesuatu sendiri ternyata malah membuatku lupa kekuasaan, kebesaran, kerahiman MU. Tolonglah hamba  ya Allah, agar selalu ingat kepadaMU  dalam kondisi apapun. Berkahilah hidup hamba……

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 31, 2011 in lesson

 

“siap kesana”

menjadi tua

ternyata

asyik juga

…………….

andaikan naik tangga

makin ke atas tempatnya

ketika menengok bawah sana :

mendesah lega

aku sudah lampaui itu semua

……………………….

menjadi tua

banyak seninya

dan pilihannya pula

………………….

ter gores ini semua

setelah menyaksikan pelepasan purna

sahabat sejawat yang tersenyum sehat ceria

bangga

untuk hari tua

yang telah menunggunya.

 

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 2, 2011 in Uncategorized

 

“perjalanan malam untuk anak ku”

Jam setengah 2 siang  masih di sekolah ketika anak ku sms ‘masuk angin’. Cepat-cepat aku pulang,sampai rumah jam 2 an. Setelah  sholat  yang tergesa-gesa,  jam setengah 3 lebih 5 menit aku sudah di atas bis jurusan semarang .

Setengah 6 disambut hujan deras, aku turun di pertigaan Tirboyo.Bis jurusan semarang Yogya sudah gak ada jadi kalau mau ke Yogya harus lewat Solo.Aku termangu-mangu.

Ditengah hujan deras yang mengguyur sebagian badan dan kebingungan apakah berani malam-malam ke yogya lewat solo, ada bis jurusan Rembang melintas di depanku; maka aku putuskan pulang  saja sambil memberitahu anak ku yang iba padaku menyetujui keputusan pembatalan ke yogya. “Iya ibu pulang saja kasihan, aku tidak apa-apa  kok setelah di ‘uap’ di rumah sakit tadi. Sekarang agak enak hanya sedikit sesak nafas aja”. begitu tulisnya di sms.

Didalam bis yang nyaman, bersih dan bagus karena baru rakitan nya; tiba-tiba aku sedih dan  muncul kebingungan lagi apakah aku tega membiarkan anak ku sakit semalam ini. Kalaupun sekarang  aku balik  besuk harus berangkat lagi…….

Akhirnya aku berdiri, berjalan ke dekat sopir dan  aku minta diturunkan padahal tiket belum ada seperlima terlampaui. Kulirik jam setengah 7 kurang. Berdiri sendiri di pinggir jalan gelap agak menciut hatiku walaupun masih sore; jadi ku datangi sebuah warung rokok dan permisi menunggu bis disitu. Tidak terlalu lama sebuah patas jurusan pemalang lewat dan mau mengangkut ku sampai terminal semarang.

Masih di tengah hujan aku turun yang kedua kali di pertigaan Terboyo. Tidak terlalu lama menunggu datang  patas  jurusan solo yang nyaman……Aku pilih tempat yang aman – tidak jauh dari sopir. dan ku nikmati perjalanan dengan seribu satu pikiran, lamunan, serta angan-angan.

Jam setengah sepuluh kurang sepuluh, sampai di kartosuro. Cuaca tidak hujan.Aku turun dari bis bergaya ‘pe-de’, menyeberang jalan besar dan mengambil tempat aman bagi seorang wanita yang sendirian malam-malam. Perjalanan solo – yogya ternyata sangat singkat dan sangat menyenangkan.

Bis telah menurunkan aku di  Yogya  jam setengah 11. Setelah menawar taksi pertama tidak berhasil, taksi kedua membawa ku ke tempat kos anak ku. Dengan bantuan teman se kos nya; aku dibukakan pintu gerbang dan masuk ke kamar anak ku yang terbaring agak ter sengal-sengal nafasnya serta badan demam…………………………….


 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 2, 2010 in kisah

 

DOA LANSIA ( warisan ibuku)

“Ya Allah. ya Tuhanku”

“Engkau yang paling tahu, bahwa aku semakin tua dan satu saat akan menjadi jompo. Tuhan, ajarkanlah padaku agar dapat menerima nya dengan ikhlas.

Peliharalah diriku agar jangan menjadi nenek-trembel yang ngoceh dan ngomel sepanjang hari, dan hindarkanlah daku , ya Allah, dari kebiasaan buruk untuk mengomentari segala-galanya.

Ya Allah, hilangkanlah kecenderunganku untuk selalu mencampuri urusan orang lain. Jadikanlah aku suka berfikir tetapi tidak selalu memaksakan pendapat. Dan jadikanlah daku suka menolong, tanpa memaksakan kehendak.

Aku tahu ya Allah, bahwa aku amat banyak pengalaman hidup, dan sayang sekali apabila pengalaman berharga itu tidak diturunkan. Namun Engkau tahu , orang muda juga ingin mempunyai pengalaman sendiri, dan aku lebih suka bersahabat dengan mereka.

Ya Allah , janganlah aku sibukkan diri dengan urusan tetek bengek, tetapi mantapkanlah diriku di dalam ke taqwaan kepada Engkau, agar aku dapat memisahkan yang pokok dari yang sampingan.

Ya Allah, kuncilah mulutku dari keluhan susah dan sakit sekalipun sakitku semakin menjadi. Aku ingin lulus ujian sabar Mu itu. Dan berkahilah diriku dengan daya kasih sayang yang cukup, agar aku mampu mendengarkan keluhan orang. Tolonglah daku mendengarkan mereka dengan sabar dan pengertian. Dan cukupkanlah kesadaran pada diriku bahwa  aku manusia biasa yang sewaktu-waktu bisa keliru.

Y Allah ya Tuhanku, janganlah membiarkan hatiku kerdil karena dengki dan iri, maka aku akan mudah memaafkan siapa saja. Tolonglah daku menikmati kehidupan yang Engkau berikan kepadaku ini dengan segala berkah dan kekayaan MU, amiiin.”

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada November 26, 2010 in lesson

 

Mana ‘darah dagangnya’?

Dalam kebingungannya mencari pekerjaan, anakku bilang:” Ibu, aku mau belajar berdagang.” “Berdagang? Berdagang apa nak?”, begitu responku penuh keheranan karena keluarga kami bukan keluarga yang mempunyai darah pedagang. Semua adik-adik bapak, saudara-saudara ibu adalah pegawai negeri: ada yang guru, pegawai kantor , pegawai perusahaan , dokter, atau petani. Jadi menurutku kami termasuk orang yang tidak bisa berdagang karena bukan keturunan pedagang.

Ternyata apa yang dilakukan anakku adalah membeli kerudung. Kemudian kerudung-kerudung itu dijual lagi lewat beberapa  teman. Pada awalnya dia membeli kerudung kurang lebih 30 buah. Alhamdulillah habis, bahkan ada  pesanan kerudung dengan  warna dan model tertentu. Dia kembali melakukan aktifitas seperti awal, ditambah mencari  kerudung-kerudung sesuai pesanan. Aku sangat gembira melihat keinginan dia melakukan sesuatu terpenuhi.

Suatu ketika, batas maksimal penawaran kerudung sampai pada masanya. Kurang lebih sepuluh kerudung kembali karena tidak ada yang berminat. Sampai berhari-hari kerudung itu teronggok di atas meja kecil disudut kamarku. Sementara anakku sudah kembali ke-kos nya. Setiap saat aku melihat kerudung-kerudung itu hatiku sedih. Aku sedih bukan karena barang yang tidak laku dan uang yang tidak kembali atau merugi, tetapi aku merasa sedih dengan terhentinya usaha kecil-kecilan anakku. Ada terbersit rasa cemas kalau anakku kecewa,bersedih dan putus asa dengan terhentinya usaha yang baru dia awali ini. Itulah mungkin karena ke tidak-ada an darah dagang dalam diriku. ‘Belum-belum’ ( begitu orang Jawa bilang ) , sudah ketakutan, ‘belum-belum’ sudah mau menyerah. Lagi pula berdagang tidak laku itu adalah bagian dari perjalanan, disitu seninya, begitu kata orang. Tidak ada pedagang yang untung dan laku terus. Ada masa-masa sepi, ada kalanya merugi. Hal itulah yang sama sekali ‘asing ‘ bagiku. Tidak pernah terbayangkan.Maunya, harapannya laku semua, untung setiap saat……

Terdorong segala rasa yang aku utarakan di atas, akhirnya aku bawa dan aku tawarkan kerudung sisa itu ke teman-temanku. Ternyata mendapat sambutan bagus sehingga kerudung-kerudung itu habis. Seperti yang pernah dialami anakku, sekarang aku balik mendapat banyak pesanan. Anak ku senang bukan main. Ketika aku cerita bahwa harga kerudungnya aku murahkan, anakku terkejut bukan main dan dengan sedikit marah dia bilang:” Aduuuh ibu……..gimana ibu ini, bener -bener gak profesional dech ibu.” Aku diam saja merasa bersalah.”Kalau begini caranya bakalan merusak harga ibuu…begitu dia melanjutkan penyesalannya. Aku merasa bersalah dan baru menyadari kalau apa yang aku lakukan akan berdampak merusak harga bagi barang berikutnya. Hal seperti itu sama sekali tidak ada dalam pikiranku. Yang ada hanya ‘kasihan, kasihan dan kasihan’ saja; kok kerudungnya tidak laku. Dari pada teronggok, kan lebih baik ditawarkan dengan harga lebih murah dari harga awal. “Kan sering ada juga banting harga'” begitu pikirku .

Memang, pada mulanya aku berniat tidak ikut aktifitas penjualan. Selain ‘tidak tegaan’ aku juga ‘sungkan’ karena di tempat kerjaku sudah banyak teman-teman yang melakukan hal serupa dengan barang serupa. Maksudku sudah banyak teman-teman yang menawarkan kerudung di tempat kerjaku, jadi aku tidak enak menyaingi mereka. Lagi-lagi pemikiran sempit orang yang tidak berjiwa pedagang: takut bersaing.

Berbekal pengalaman di atas dan keinginan memperbaiki kesalahan, aku mulai lagi kegiatan membantu anakku dengan bersemangat. Sebagai seorang ibu aku menasehati dia :” Jangan terlalu lama menyesali kegagalan, siapa tahu itu merupakan awal keberhasilan besar”.

Ada kata bijak yang bunyinya: Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka tetapi kita seringkali terlalu lama memandang dengan kecewa pintu yang tertutup itu sehingga kita tidak melihat pintu yang terbuka bagi kita.

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 26, 2010 in kisah, Uncategorized